Perguruan Tinggi Bukan Pabrik Sarjana


JAKARTA, KOMPAS.com - Perguruan tinggi bukanlah ”pabrik” sarjana, tetapi institusi yang menghasilkan manusia mandiri, kreatif, dan berkualitas. Di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh cepat merasa puas jika sudah meraih gelar sarjana.
Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta saat orasi di wisuda sarjana Universitas Mataram di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/2), mengatakan, karena cepat berpuas diri, angka pengangguran terdidik tergolong tinggi. Sarjana yang menganggur, misalnya, sekitar 14,2 persen, sedangkan lulusan diploma yang menganggur sekitar 15,7 persen.
Untuk mengatasi pengangguran ini, kata Hatta, lulusan perguruan tinggi tidak semestinya bercita-cita menjadi pegawai, tetapi harus belajar mandiri dan kreatif dengan berwirausaha. Hingga saat ini pun, jumlah wirausaha di Indonesia masih minim, hanya sekitar 400.000 orang atau 0,18 persen dari jumlah penduduk. Padahal, idealnya minimal 4,4 juta orang atau dua persen dari jumlah penduduk, seperti halnya di negara maju.
Untuk mendorong jiwa kewirausahaan, terutama di bidang teknologi, lanjut Hatta, Kementerian Riset dan Teknologi melaksanakan program Technopreneurship Pemuda untuk menumbuhkan minat pemuda menjadi technopreneur.
Saat peluncuran pengembangan sistem inovasi daerah (sida) di Mataram, Gusti Muhammad Hatta mengatakan, kawasan Nusa Tenggara Barat dikembangkan sebagai pusat agribisnis sapi potong unggulan dengan menerapkan iptek dan sumber daya manusia yang andal. Pengembangan ini untuk mendorong kemandirian karena impor sapi Indonesia pada tahun 2011 sangat tinggi, yakni 500.000 sapi dan ribuan ton daging sapi. Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi mengatakan, pihaknya juga mencanangkan Program Bumi Sejuta Sapi di NTB. (YUN/RUL)
Tag : Berita
0 Komentar untuk "Perguruan Tinggi Bukan Pabrik Sarjana"

Back To Top